Kadar Methanol di Arak Penyebab Kematian 3 Warga

Kompas.com - 05/09/2012, 16:48 WIB

DENPASAR, KOMPAS.com - Aparat Polres Bangli menemukan kadar Methanol sebesar 9,02 persen di dalam arak maut yang menewaskan 3 warga Desa Katung, Kintamani, Bangli dan meracuni puluhan warga lainnya. Sampai saat ini, polisi masih menyelidiki asal usul arak yang mematikan tersebut.

"Dari hasil pemeriksaan barang bukti berupa sisa minuman yang diperoleh di TKP diduga korban meninggal dunia akibat mengonsumsi arak, sudah dicampur dengan zat lain sehingga mengandung kadar methanol 9,02 persen," ujar Kasubbag Humas Polres Bangli AKP Dewa Nyoman Rai kepada wartawan, Rabu (5/9/2012).

Berdasarkan pemeriksaan Labfor, kadar Methanol sebanyak itu dapat menyebabkan kematian jika dikonsumsi cukup banyak. Dari 7 TKP pesta arak, polisi menemukan ratusan liter arak sisa pesta yang berujung maut tersebut.

Selain pemeriksaan barang bukti, polisi secara intensif mendalami keterangan saksi dari pihak keluarga maupun korban selamat untuk menelusuri asal arak maut tersebut.

Seperti diberitakan, puluhan warga Desa Katung, Bangli menderita keracunan arak Methanol usai pesta miras merayakan Hari Raya Galungan, pekan lalu. Sejak Sabtu (1/9/2012) sebanyak 45 korban keracunan arak Methanol berdatangan ke RSUP Sanglah, Denpasar dan sejauh ini sudah ada 3 korban meninggal dunia.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau